Film Movie
Sub Category
"Film "Terkutuk" 2024 adalah film horor Indonesia tentang Radha (Atiqah Hasiholan), seorang jurnalis foto yang pindah ke sebuah rumah susun bersama putranya karena masalah ekonomi. Setelah ia menerima paket misterius, teror dan kematian tidak wajar mulai menghantui para penghuni rusun, memaksa Radha mengungkap rahasia kelam di balik unit rusunnya dan paket tersebut.
"Di tengah teror pembunuhan berantai yang mengincar satu demi satu nyawa para guru pesantren, Satrio, salah satu santri, harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya dan menjaga keselamatan orangtuanya yang terancam bahaya.
Gowok memutuskan untuk datang ke tanah Jawa demi bisa mengajari para calon pengantin laki-laki agar mereka bisa memuaskan pasangan masing-masing pada malam pertama.
Jaka Sembung dan Dewi Samudra adalah film laga epos dewasa tahun 1990 dari Indonesia yang dibintangi oleh Barry Prima dan Yurike Prastika. Cerita film ini dibuat berdasarkan serial komik Indonesia "Jaka Sembung" karya komikus terkenal Indonesia Djair Warniponakanda.
Catatan Penting :
Film ini adalah Versi Early. Ini adalah versi WEB-DL dari platform streaming Rusia, namun untuk audionya telah diubah menjadi Audio Indonesia yang kemungkinan besar diambil dari versi HDCAM, oleh karena itu kualitas audionya sangat rendah dan masih kurang nyaman untuk didengar.
"Perbudak Anak Yatim Mati Terhimpit Gerbong Kereta" adalah Episode 101 dari serial FTV rohani Islam Hidayah, produksi MD Entertainment yang tayang perdana di Trans TV pada 11 Juli 2005. Serial ini terkenal dengan episode-episode mandiri yang menyampaikan pesan moral tentang azab ilahi atas dosa-dosa besar, sering kali dengan elemen dramatis dan supranatural untuk mengajak penonton bertaubat. Episode ini termasuk dalam batch episode tengah yang menyoroti tema kezaliman terhadap anak yatim, di mana pelaku mendapat balasan tragis di akhir cerita.
Episode ini mengisahkan seorang tuan tanah atau majikan kejam (tokoh antagonis utama) yang memperbudak seorang anak yatim piatu miskin. Anak yatim itu dipaksa bekerja keras tanpa upah layak, dianiaya secara fisik dan mental, serta diperlakukan seperti budak di ladang atau pekerjaan berat lainnya. Meski diberi peringatan oleh tetangga atau keluarga, sang tuan tetap keras hati dan mengabaikan hak anak yatim tersebut. Puncak cerita terjadi saat anak yatim itu tewas secara tragis: mati terhimpit gerbong kereta api dalam kecelakaan mengerikan, yang digambarkan sebagai bentuk azab ilahi atas kezaliman sang tuan. Kejadian ini membuat sang tuan jatuh ke dalam penyesalan mendalam, menyadari dosanya setelah melihat roh anak atau tanda-tanda supranatural. Cerita berakhir dengan pelajaran bagi penonton tentang pentingnya melindungi anak yatim.
"Curang Dalam Berdagang Mayat Mengecil Saat Dimandikan" adalah Episode 38 dari serial FTV rohani Islam Hidayah, produksi MD Entertainment yang tayang perdana di Trans TV pada 11 Juli 2005. Serial ini terkenal dengan episode-episode mandiri yang menyampaikan pesan moral tentang azab ilahi bagi pelaku dosa, sering kali dengan elemen dramatis dan supranatural untuk mengingatkan penonton akan pentingnya kejujuran dan taqwa. Episode ini termasuk dalam batch episode awal yang menyoroti tema kecurangan dalam berbisnis, di mana pelaku akhirnya mendapat balasan di akhir hayat.
Episode ini mengisahkan seorang pedagang curang (tokoh utama antagonis) yang sering kali menipu pembeli dengan menimbang barang dagangannya secara tidak adil, seperti menggunakan timbangan curang atau mengurangi takaran. Kehidupannya tampak makmur berkat kecurangan ini, tapi ia abaikan peringatan dari orang-orang di sekitarnya. Saat ajal menjemput, saat jenazahnya dimandikan menjelang penguburan, terjadi kejadian aneh: mayatnya tiba-tiba mengecil secara misterius, seolah-olah "menyusut" seperti barang dagangannya yang pernah dikurangi. Fenomena ini menjadi tanda azab dari Allah SWT atas dosa kecurangannya, membuat keluarga dan tetangga berhenti sejenak dalam syok, sebelum akhirnya cerita menekankan penyesalan dan pelajaran bagi yang masih hidup.
Sutradara: Ishaq Iskandar
Produser: Leonita Sutopo
Pemeran: Mutia Datau, Herman Felani, Rieka Suatan, Amran S Mouna, Pitrajaya Burnama
Sinopsis
Mira adalah gadis cantik, namun badung dan kelaki-lakian. Ini karena ia bungsu perempuan satu-satunya, tidak punya teman main perempuan dan ayahnya punya sebuah sasana tinju. Hal ini merisaukan ibunya. Ketika Dino, anak Dokter Eko, datang dari luar negeri, ibu Mira mengatur siasat untuk menggaet teman anak gadisnya waktu kecil itu. Mira tetap tak acuh, meski Dino sudah menunjukkan minatnya. Setelah lewat lika-liku kisah, Mira dan Dino bisa dipersatukan. Mira lebih menyadari kewanitaannya.
"Penjahat Dan Anak Kecil" adalah Episode 161 dari serial FTV rohani Islam Hidayah, produksi MD Entertainment yang tayang perdana di Trans TV pada 11 Juli 2005. Serial ini terdiri dari episode-episode mandiri yang masing-masing menyampaikan pesan moral tentang hidayah (petunjuk) dari Allah SWT, sering kali dengan tema azab bagi pelaku kejahatan dan penyesalan di akhir cerita. Episode ini termasuk dalam daftar episode lanjutan, menonjol karena salah satu kasus langka di mana antagonis utama tidak berakhir tragis tanpa ampunan.
Episode ini menceritakan seorang penjahat (karakter antagonis) yang diperankan oleh aktor Henri Hendarto sebagai "Lord Suroso" – villain legendaris dalam serial Hidayah yang biasanya mati dalam azab mengerikan. Berbeda dari peran-perannya yang kejam seperti meracuni anak tetangga atau memfitnah orang lain, di sini tokoh penjahat ini mengalami pertobatan berkat interaksi dengan anak kecil yang polos dan penuh kasih sayang. Cerita menekankan tema penebusan dosa, di mana kejahatan masa lalu berhadapan dengan kepolosan anak, membawa hidayah dan akhir yang lebih positif – sang penjahat berubah menjadi lebih baik tanpa kematian tragis. Ini menjadi salah satu episode langka di mana karakter Henri Hendarto tidak mati dalam azab, melainkan mendapat kesempatan untuk bertobat sepenuhnya.
"Azab Seorang Centeng Meninggal Dengan Kedua Tangan Bernanah" adalah Episode 132 dari serial FTV rohani Islam Hidayah, produksi MD Entertainment yang tayang perdana di Trans TV pada 11 Juli 2005. Serial ini terkenal dengan episode-episode mandiri yang menyampaikan pesan moral tentang azab ilahi atas dosa-dosa besar, sering kali dengan elemen dramatis dan supranatural untuk mengajak penonton bertaubat. Episode ini termasuk dalam batch episode tengah yang menyoroti tema kekerasan dan penindasan, di mana pelaku mendapat balasan fisik yang mengerikan di akhir cerita.
Episode ini mengisahkan seorang centeng atau preman bayaran kejam (tokoh antagonis utama, sering diperankan aktor seperti Henri Hendarto atau Hengky Solaiman) yang bekerja untuk orang kaya atau pejabat korup. Ia sering memukul, menganiaya, dan menakuti orang miskin atau yang berhutang, termasuk mematahkan tangan korban tanpa ampun. Meski diberi peringatan oleh keluarga atau tetangga tentang dosa kekerasannya, sang centeng tetap keras hati dan menganggapnya sebagai "pekerjaan". Puncak cerita terjadi saat ia jatuh sakit mendadak: kedua tangannya membengkak dan bernanah parah, penuh dengan bisul beracun yang berbau busuk, hingga ia tidak bisa bergerak. Dalam sekarat, ia mengalami halusinasi korban-korbannya yang memukul balik. Akhirnya, ia meninggal dalam kesakitan hebat, dan saat dimandikan, nanah dari tangannya mengalir deras seperti darah, membuat orang-orang syok dan melihatnya sebagai tanda azab dari Allah SWT.
Wyn memutuskan pergi ke Korea Selatan untuk mencari seorang pria yang telah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Namun, proses pencarian tersebut ternyata tak berjalan sesuai dengan harapannya.
Sinopsis Singkat:
Film ini lanjutan dari kisah sebelumnya dalam penumpasan sebuah sindikat yang berkedudukan dan mengelola kejahatan. Indra Sanjata dan Ben Murphy saling bekerjasama dalam membongkat sindikat tersebut.
Sinopsis Lengkap:
Lanjutan kisah laga ini menceritakan penumpasan sebuah sindikat yang berkedudukan dan mengelola kejahatan dari atas kapal pesiar mewah, yang berfungsi sebagai tempat perjudian, rumah bordil, pusat penampungan obat bius, dan pencetakan uang palsu. Adalah Indra Sanjata (Advent Bangun) dan Ben Murphy (Waren Fleming) yang bahu membahu membongkar kegiatan sindikat tersebut, yang telah menyandera adik Ben, Margie (Marintan Panjaitan).
Negara & Tanggal Rilis: Indonesia, -
Klasifikasi: 17+
Bahasa: Bahasa Indonesia
Warna: Berwarna
Status: Selesai / Rilis
"Ustaz Ahmad, seorang tokoh agama, harus melakukan ruqyah kepada istri dan anak-anaknya karena sering diganggu oleh sesosok makhluk halus yang mengerikan.
"Demi jalan singkat untuk memperbaiki hidupnya, Otto, mantan tentara yang baru keluar dari penjara, berniat merampok sorang perempuan kaya raya yang konon menjadi simpanan para pejabat. Namun, aksi perampokan mereka berubah menjadi melapetaka.
Beberapa tahun setelah berhasil menyelamatkan diri dari kejadian mengerikan yang membuat mereka kehilangan ibu dan si bungsu Ian, Rini dan adik-adiknya, Toni dan Bondi, serta Bapak tinggal di rumah susun karena percaya tinggal di rumah susun aman jika terjadi sesuatu karena ada banyak orang.
"Ejen Ali: The Movie 2 mengisahkan Ali yang menjadi pilot untuk kostum super canggih bernama SATRIA, yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mental. Saat kota Cyberaya diserang oleh penjahat misterius Neonimus dan sosok Cero yang memiliki hubungan dengan Alicia, Ali harus menghadapi ancaman, mengendalikan kostum SATRIA, dan belajar bahwa keberanian sejati adalah tentang keputusan moral serta integritas, bukan hanya kekuatan.
Setelah hilangnya SITA (Artika Sari Devi), istrinya, di Gunung Sarangan di ulang tahun ke-10 DRUPADI (Adzana Ashel), putrinya, sikap TITO (Donny Alamsyah) menjadi dingin dan membuat Dru sedih. Pacarnya,RAKA (Razan Zu), dan sahabatnya MAYA (Dinda Mahira), UCOK (Fatih Unru), JAMAL (Fadi Alaydrus), dan NURUL (Alika Jantinia) serta sahabat orang tuanya BAGUS (Yama Carlos) dan OJI (Alex Abbad), juga GANCAR (Tesadesrada Ryza) pamannya, adalah penyemangat Dru. Namun itu semua tak cukup, dan di ulang tahunnya ke-17 Dru berangkat ke Gunung Sarangan untuk mencari ibunya.
"Kematian Tragis Jawara Kampung" adalah Episode 55 dari serial FTV rohani Islam Hidayah, produksi MD Entertainment yang tayang perdana di Trans TV pada 11 Juli 2005. Serial ini terkenal dengan episode-episode mandiri yang menyampaikan pesan moral tentang azab ilahi atas dosa-dosa besar, sering kali dengan elemen dramatis dan supranatural untuk mengajak penonton bertaubat. Episode ini, juga dikenal dengan judul alternatif "Kisah Preman Yang Tragis", menyoroti tema premanisme kampung, di mana "jawara kampung" (juara atau preman lokal) mendapat balasan tragis atas kezalimannya.
Episode ini mengisahkan seorang jawara kampung atau preman desa (tokoh antagonis utama, diperankan oleh aktor legendaris Henri Hendarto sebagai "Lord Suroso") yang sombong dan kejam. Ia sering memeras warga, memukul orang lemah, dan menguasai pasar desa dengan kekerasan, mengabaikan nasihat agama dari kyai atau tetangga. Hidupnya tampak glamor dengan uang haram, tapi dosa-dosanya menumpuk. Puncak cerita terjadi saat ia terlibat konflik mematikan: mati tragis terluka parah dalam perkelahian, mungkin terjatuh dari motor atau ditikam, dengan darah berceceran di jalan kampung. Dalam sekarat, ia mengalami penyesalan mendalam, melihat bayangan korban-korbannya, dan jenazahnya saat dikubur menunjukkan tanda azab seperti bau amis atau tubuh membengkak. Cerita berakhir dengan pelajaran bagi warga desa tentang bahaya kesombongan dan kekerasan.
Harimau Merah: Konflik Bermula adalah sebuah film aksi tentang Hakin, seorang perwira polisi yang menyamar dan menyusup ke dalam geng kriminal "Harimau Merah" untuk mengungkap kejahatan mereka. Misinya menjadi rumit ketika ia dikhianati dan harus menghadapi dilema moral serta loyalitasnya dipertaruhkan, berjuang untuk keadilan di tengah dunia yang penuh tipu daya tanpa identitasnya terbongkar.
Sinopsis Singkat:
Bercerita tentang 3 wanita yang saling bersahabat berusaha mengungkap pembunuhan terhadap keluarga teman mereka. Setelah diselidiki, ternyata pembunuhan tersebut berlatar belakang hasrat untuk menguasai tanah perkebunan yang dimiliki keluarga teman mereka itu.
Sinopsis Lengkap:
Tina (Sally Marcelina), Rani (Ranieta Manopo) dan Ika (Anna Sherly) saling bersahabat. Suatu hari, mereka mengunjungi perkebunan milik Pak Guntur karena ibu Rani, Sarah (Ferry Soraya), berlibur di sana. Namun, yang mereka temukan justru rumah itu sudah penuh mayat korban pembunuhan, termasuk ibu Rani. Ketiga sahabat itu kemudian bertekad mengungkap pelaku pembunuhan. Dibantu Pak Dewo, ayah Tina yang merupakan seorang perwira polisi, dan Pak Guntur yang langsung kembali ke tanah air karena tragedi itu, pelaku pembunuhan berhasil diciduk. Mereka ternyata komplotan Handoko (Rudy Salam) dan Diran (Karen Sukarno), yang berhasrat menguasai tanah perkebunan yang indah dan subur itu.
Negara & Tanggal Rilis: Indonesia, -
Klasifikasi: 17+
Bahasa: Bahasa Indonesia
Warna: Berwarna
Status: Selesai / Rilis